Translate

Selasa, 03 Desember 2019

Sutra tentang Gembala Sapi

Ada dua Gopālaka Sutta di dalam Majjhima Nikāya Pāli, masing-masing dibedakan dengan sebutan ‘besar’ (mahā) dan ‘kecil’ (cūla). S ū tra tentang Gembala Sapi yang diterjemahkan berikut merupakan padanan Gopālaka Sutta kecil (MN 34). Sūtra ini justru termuat dalam Ekottara Āgama (T. vol. 2, № 125 hlm. 761b–762a) varga XLIII dan, anehnya, pada Kelompok Delapan. Hal ini disebabkan karena Jalan Berunsur Delapan yang disebutkan sambil lalu di dalamnya.

Teks kita diawali dengan mengatakan Buddha berada di Magadha. Namun, lanjutannya 神祇恒水側 (‘di sisi Sungai Gaṅgā Dewata’?) agak kurang jelas. Kita yakin terjadi salah-salin karakter 神 selama berabad-abad, yang seharusnya adalah 拔. Dengan demikian frase ini akan terbaca 拔祇恒水側 (‘di Sungai Gaṅgā yang bersisian dengan [Negeri] Vṛji’). Gopālaka Sutta lebih mendetail dalam memberikan lokasi pembabarannya: di tepi Sungai Gaṅgā di Ukkācelā di antara orang-orang Vajji. Jadi, menurut sutta ini Buddha berkhotbah di wilayah Vajji, sementara dalam teks kita Beliau berkhotbah di seberangnya, di wilayah Magadha.

Bukan hanya lokasi pembabaran yang berseberangan, perumpamaan di dalam teks kita tampaknya juga semula dipergunakan untuk maksud berbeda. Teks kita memperlihatkan jejak penulisan-ulang. Gembala yang buruk dan gembala yang baik masing-masing mengumpamaï guru-guru yang sesat dan benar. Tetapi, siapakah mereka?

Guru-guru yang sesat menurut Gopālaka Sutta ialah para samaṇa dan brāhmaṇa non-Buddhis yang, apabila diyakini, akan membawa kepada kemudaratan dan penderitaan (ahitāya dukkhāya). Sedangkan guru yang benar tidak lain ialah Buddha yang, apabila diyakini, akan membawa kepada kemanfaatan dan kebahagiaan (hitāya sukhāya).

Menurut bagian awal teks kita, guru-guru yang sesat ialah “bhikṣu-bhikṣu” dalam saṅgha Sang Buddha juga: mereka yang tidak membiasakan diri dalam ajaran Śīla, terperdaya oleh Māra, bahkan menjerumuskan orang lain ke dalam kesesatan. Sedangkan guru yang benar ialah mereka yang dengan merdeka berkelana dan mentransformasikan makhluk lain (ke dalam Dharma) karena telah mengakhiri segala kebocoran (āsrava). Dengan kata lain, gembala yang baik mengumpamaï arhat di sini. Tiga golongan sapi mengumpamaï tiga jenis pribadi suci berikutnya, dan pedet-pedet mengumpamaï srotāpatti-pratipannaka.

Hanya lima subjek ini yang dibahas Sūtra tentang Gembala Sapi pada mulanya. Secara tiba-tiba di bagian akhir, gembala yang buruk bergeser tafsirnya menjadi para brahmaṇa [dan śramaṇa] non-Buddhis, sedangkan gembala yang baik menjadi Buddha sendiri. Kompilator teks kemudian kurang berhasil menyisipkan kembali Buddha sebagai subjek ke bagian awal. Perumpamaan gembala yang baik di bagian awal jadi bermakna ganda: untuk Buddha dan para arhat.

Kompilator Gopālaka Sutta mengatasi permasalahan ini dengan menambahkan golongan sapi keempat: bapa-bapa sapi (gopitara). Namun, karena gembala yang baik kini ditempati oleh Buddha saja, maka gembala yang buruk, sebagai lawannya, hanya bisa dimaknaï para samaṇa dan brāhmaṇa non-Buddhis. Untuk perbandingan, silakan lihat tabel berikut.




《牧牛經》




聞如是。
Demikianlah yang telah kudengar:



一時,佛在摩竭國,拔祇恒水側,與大比丘眾,五百人俱。
Pada suatu ketika Buddha berada di Magadha, di Sungai Gaṅgā yang bersisian dengan Negeri Vṛji, bersama dengan sekumpulan besar bhikṣu yang berjumlah 500 orang.



爾時,世尊告諸比丘:「猶如摩竭牧牛人愚惑少智,意欲從恒水此岸,度牛至彼岸。亦復不觀彼此之岸深淺之處,便駈牛入水。
Pada saat itu Bhagavan bersabda kepada para bhikṣu: “Misalkanlah gembala sapi dari Magadha yang bodoh dan sedikit pengetahuan. Ia bermaksud hendak menyeberangkan sapi-sapinya dari pantai sini ke pantai sana Sungai Gaṅgā. Pun lagi, tidak diamatinya tempat yang dalam atau dangkal di pantai sini dan sana, malah langsung digiringnya sapi-sapinya masuk air.


先度瘦者,又犢尚小。
Terlebih dahulu diseberangkannya yang kurus, yang masih pedet lagi kecil.

在水中央,極為羸劣,不能得至彼岸。
Maka di tengah air mereka keletihan dan teramat lemah sehingga tidak sanggup sampai ke pantai sana.

復次!度中流之牛,不肥不瘦。
Selanjutnya lagi, diseberangkannya sapi-sapi yang sedang perawakannya, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus.

亦不得度,於中受其苦惱。
Mereka pun tidak dapat menyeberang, bahkan menanggung derita di tengah-tengah.

次復!度極有力者。
Selanjutnya lagi, diseberangkannya yang teramat berkekuatan.

亦在水中,受其困厄。
Dan di tengah air pun mereka mesti mengalami susah-payah.



「今我眾中比丘亦復如是。心意闇鈍,無有慧明,不別生死徑,不別魔橋船。
“Kini, para bhikṣu di tengah saṅgha-Ku juga demikian. Dengan batin yang gelap dan pikiran yang tumpul, tanpa terang kebijaksanaan mereka tidak memperbedakan jalur saṃsāra, tidak memperbedakan jembatan dan perahu Māra.

意欲度生死之流,不習於禁戒之法,便為波旬得其便也。
Bermaksud hendak menyeberangi arus saṃsāra, mereka tidak membiasakan diri dalam ajaran Śīla, malah terperdaya oleh Pāpīmān (‘si Jahat’).

從邪道求於涅槃,望得滅度,終不果獲。
Mengikuti jalan yang sesat dalam mencari Nirvāṇa, walau berharap memperoleh Pemadaman, pada akhirnya mereka takkan memperoleh Buah.

自造罪業,復墮他人著罪中。
Bukan hanya diri sendiri yang melakukan perbuatan salah, orang lain pun mereka jerumuskan ke dalam kesalahan.



「猶摩竭牧牛人黠慧多智,意欲度牛至彼岸。彼此之岸,先觀察深淺之處。
“Misalkanlah gembala sapi dari Magadha yang bijaksana dan banyak pengetahuan. Ia bermaksud hendak menyeberangkan sapi-sapinya ke pantai sana. Di pantai sini dan sana terlebih dahulu diamatinya dan diperiksaïnya tempat yang dalam dan dangkal.


前度極盛力牛到彼岸。
Sebelumnya, diseberangkannya sapi-sapi yang teramat berkekuatan sampai ke pantai sana.

次度中流之牛,不肥不瘦。
Selanjutnya, diseberangkannya sapi-sapi yang sedang perawakannya, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus.

亦得度至彼岸。
Mereka pun dapat menyeberang sampai ke pantai sana.

次度極羸者。
Selanjutnya, diseberangkannya yang teramat lemah.

亦度無他。
Mereka pun dengan selamat menyeberang tanpa bahaya.

小犢尋從其後,而濟度無為。
Pedet-pedet kecil mengikuti di belakangnya, dan dibantunya menyeberang tanpa perlu berjerih.



「比丘。如來亦復如是。善察今世、後世,觀生死海、魔之徑路。
“Para bhikṣu, Tathāgata juga demikian. Diperiksaï-Nya secara baik dunia sekarang dan dunia akan datang, diamati-Nya laütan saṃsāra dan jalur Māra.

自以八正道,度生死難;復以此道,度不度者。
Dengan Jalan Tepat Berunsur Delapan, Ia sendiri menyeberangi kesukaran saṃsāra; juga dengan Jalan ini diseberangkan-Nya yang belum terseberangkan.



「猶如導牛之正——一正,餘者悉從——我弟子亦復如是。盡有漏成無漏,心解脫、智慧解脫,於現法中以身作證而自遊化,度魔境界至無為處。
“Seperti ketepatan seorang pengangon sapi — satu yang tepat, sisanya mengikuti semua — para siswa-Ku juga demikian. Mengakhiri segala kebocoran (āsrava) menjadi tanpa-kebocoran (anāsrava), terbebaskan secara batiniah (cetovimukta) dan terbebaskan melalui kebijaksanaan (prajñāvimukta), dalam kehidupan sekarang juga (dṛṣṭadhārmika) mereka menjadi saksi badani (kāyasākṣin) yang merdeka berkelana dan merubah, menyeberangi wilayah Māra menuju Yang Tak Terkondisi.



「亦如彼有力之牛度彼恒水得至彼岸,我聲聞亦復如是。斷五下結,成阿那含,於彼般涅槃,不還來世間,度魔境界至無為處。
“Pun bagaikan sapi-sapi berkekuatan yang menyeberangi Sungai Gaṅgā dan dapat sampai ke pantai sana, para śrāvaka-Ku juga demikian. Memotong lima belenggu rendah (pañca avarabhāgīya saṃyojanāni), mereka menjadi anāgāmin yang akan parinirvāṇa di sana, takkan kembali datang ke dunia, menyeberangi wilayah Māra menuju Yang Tak Terkondisi.



「如彼中流之牛,不肥不瘦,得度恒水而無疑難。我弟子亦復如是。斷三結使,婬、怒、癡薄,成斯陀含,來生此世盡於苦際,斷魔境界至無為處。
“Bagaikan sapi-sapi yang sedang perawakannya, tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus, dapat menyeberangi Sungai Gaṅgā tanpa ragu dengan kesukaran, para siswa-Ku juga demikian. Memotong tiga belenggu [terendah], menipiskan nafsu, kebencian, dan kebodohan, mereka menjadi sakṛdāgāmin yang datang terlahir ke dunia ini [sekali lagi] untuk mengakhirkan batas penderitaan, memotong wilayah Māra menuju Yang Tak Terkondisi.



「如彼瘦牛,將諸小犢,得度恒水,我弟子亦復如是。斷三結使,成須陀洹,必至得度,度魔境界,度生死之難。
“Bagaikan sapi-sapi kurus, yang memimpin pedet-pedet kecil, dapat menyeberangi Sungai Gaṅgā, para siswa-Ku juga demikian. Memotong tiga belenggu [terendah], mereka menjadi srotāpanna yang tentu akan dapat terseberangkan: menyeberangi wilayah Māra, menyeberangi kesukaran saṃsāra.



「如彼小犢,隨從母度,我弟子亦復如是。持信、奉法,斷魔諸縛,至無為處。」
“Bagaikan pedet-pedet kecil, yang menyeberang dengan mengikuti induknya, para siswa-Ku juga demikian. Sebagai pemegang keyakinan (śraddhānusārin) dan penjunjung Dharma (dharmānusārin), mereka memotong segala ikatan Māra (mārabandhana) menuju Yang Tak Terkondisi.”



爾時,世尊便說此偈:
Pada saat itu Bhagavan mengucapkan gāthā berikut:

「魔王所應獲  不究生死邊
 如來今究竟  世間現慧明
 諸佛所覺了  梵志不明曉
 猶涉生死岸  兼度未度者
 今此五種人  及餘不可計
 欲度生死難  盡佛威神力」

“Apa yang semestinya diperoleh Raja Māra
yang tidak menjangkau tepi saṃsāra,
kini telah dijangkau oleh Tathāgata
yang menampilkan terang kebijaksanaan ke dunia.

Apa yang diinsafi oleh para Buddha
tidak terang diketahui para brāhmaṇa [dan śramaṇa].
Ibarat mengarung [dari dan ke] pantai saṃsāra,
Mereka seberangkan yang belum terseberangkan.

Kini, kelima jenis pribadi ini
dan sisanya yang tak terkira,
yang hendak menyeberangi kesukaran saṃsāra,
sepenuhnya di bawah kekuatan perbawa Buddha.”



「是故!比丘。當專其心,無放逸行;亦求方便,成賢聖八品之道。依賢聖道已,便能自度生死之海。
“Oleh sebab itu, para bhikṣu, pusatkanlah batin dan jangan lengah; berupayalah agar berhasil dalam Jalan Berunsur Delapan dari para suci (ārya). Setelah bersandar pada Jalan para suci, sangguplah kalian menyeberangi sendiri lautan saṃsāra.

所以然者?猶如彼愚牧牛之人,外道梵志是也;自溺生死之流,復墮他人著罪中。彼恒水者,即是生死海也。彼黠慧牧牛者,如來是也;度生死難,由賢聖八品道。
Mengapa demikian? Ibaratnya gembala sapi yang bodoh ialah para brāhmaṇa [dan śramaṇa] non-Buddhis; mereka sendiri tenggelam dalam arus saṃsāra, pun menjerumuskan orang lain ke dalam kesalahan. Sungai Gaṅgā itu ialah laütan saṃsāra. Gembala sapi yang bijaksana ialah Tathāgata; Ia menyeberangi kesukaran saṃsāra berkat Jalan Berunsur Delapan dari para suci.

是故!比丘。當求方便,成八聖道。」
Oleh sebab itu, para bhikṣu, berupayalah agar berhasil dalam Jalan Suci Berunsur Delapan.”



「如是!諸比丘。當作是學。」
“Demikianlah, para bhikṣu, yang harus kalian pelajari.”



爾時,諸比丘聞佛所說,歡喜奉行。
Pada saat para bhikṣu mendengar apa yang disabdakan Buddha, dengan gembira mereka melaksanakannya.






—— Ekottara Āgama, Kelompok Delapan.
Sūtra ke-6 dari varga XLIII, “Putra Dewa Rohitāśva” (馬血天子品).
Padanan Pāli: MN 34 ([Cūla] Gopālaka Sutta).

Sabtu, 10 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Kesepuluh







「我聲聞中第一比丘,曉了星宿,預知吉凶,所謂那伽波羅比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul dalam mengetahui bintang dan manzilah, memprakirakan kemujuran dan kesialan, ialah Bhikṣu Na-ch’ieh-po-lo (Nāgapāla).

恒喜三昧,禪悅為食,所謂婆私吒比丘是。
Yang senantiasa senang akan samādhi, kegiuran dhyāna itu makanannya (dhyānaprīti āhāra), ialah Bhikṣu P’o-szŭ-cha (Vāsiṣṭha).

常以喜為食,所謂須夜奢比丘是。
Yang selalu menjadikan kegiuran sebagai makanan ialah Bhikṣu Hsü-yeh-shê (Suyaśas).

恒行忍辱,對至不起,所謂滿願盛明比丘是。
Yang senantiasa mempraktikkan kesabaran, tidak bangkit [melawan] ketika pertentangan tiba, ialah Bhikṣu Man-yüan Ch’êng-ming (‘Asa yang Terpenuhi, si Pengumpul Terang’)¹.

修習日光三昧,所謂彌奚比丘是。
Yang mengembangkan Samādhi Cahaya Mentari ialah Bhikṣu Mi-hsi (Meghiya).

明算術法,無有差錯,所謂尼拘留比丘是。
Yang mahir dalam kaidah seni berhitung, tiada ada selisih kesalahan, ialah Bhikṣu Ni-chü-liu (Nigrodha).

分別等智,恒不忘失,所謂鹿頭比丘是。
Yang memilah-milah dengan Pengetahuan Benar (samyag-ājñā), senantiasa tidak terlupakan atau terhilangkan, ialah Bhikṣu Lu-t’ou (‘Kepala Rusa’, Mr̥gaśiras).

得雷電三昧,不懷恐怖,所謂比丘是。
Yang mendapat Samādhi Petir Kilat tanpa merasa gentar ketakutan ialah Bhikṣu Ti (‘Lahan’, Bhūmija?).

觀了身本,所謂頭那比丘是。
Yang mengamati dan memahami akar dirinya ialah Bhikṣu T’ou-na (Droṇa).

最後取證得漏盡通,所謂須拔比丘是。」
Yang paling akhir mengambil realisasi dan mendapatkan penembusan pengakhiran kebocoran (āsravakṣayâbhijñā) ialah Bhikṣu Hsü-pa (Subhadra).”




(UDDĀNA:)

Na-ch’ieh, cha, shê-na²,
Mi-hsi, Ni-chü-liu,
Kepala Rusa, Lahan, T’ou-na,
Hsü-pa yang paling akhir.







此百賢聖,悉應廣演。
Keseratus orang bajik suciwan ini semuanya mesti dibahas lebih ekstensif.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-10 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ Setengah bagian pertama nama ini barangkali berpadan dengan bentuk Pāli: Puṇṇamāsa. Dalam Kanon Pāli setidaknya ada dua arahat berbeda dengan nama itu. Mungkinkah tokoh kita di sini adalah salah satu dari mereka? Bagian kedua nama tokoh kita juga sukar direkonstruksi.

² Sukar ditafsirkan; kita mengharapkan singkatan untuk dua nama di sini. Shê 舍 mungkin untuk sukukata terakhir Hsü-yeh-she 須夜奢 di atas, walaupun menggunakan karakter yang berbeda. Sementara na tidak pasti sebab Man-yüan Ch’êng-ming pun tidak kita ketahui bentuk aslinya.

Jumat, 09 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Kesembilan







「我聲聞中,第一比丘入慈三昧,心無恚怒,所謂梵摩達比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul memasuki Samādhi Kesayangan (maitrā), batinnya tiada kebencian, ialah Bhikṣu Fan-mo-ta (Brahmadatta).

入悲三昧,成就本業,所謂須深比丘是。
Yang memasuki Samādhi Keasihan (karuṇā) dan menyempurnakan pekerjaan asasinya ialah Bhikṣu Hsü-shên (Susīma).

得喜行德,無若干想,所謂娑彌陀比丘是。
Yang mendapat kegembiraan (muditā) atas laku kebajikan, tiada majemuk pemikirannya, ialah Bhikṣu So-mi-t’o (Samr̥ddha? Samiddhi?).

常守護心,意不捨離,所謂躍波迦比丘是。
Yang selalu mempertahankan penjagaan batin (upekṣā), pikirannya tidak pernah melepas atau mengacuhkan, ialah Bhikṣu Yüeh-po-chia (Yamaka?).

行焰盛三昧,終不懈墮,所謂曇彌比丘是。
Yang melaksanakan Samādhi Nyala Berlimpah, selamanya tidak jatuh dalam kemalasan,¹ ialah Bhikṣu T’an-mi (Dharmika).

言語麁獷,不避尊貴,所謂比利陀婆遮比丘是。
Ucapan yang dikatakannya kasar dan ngoko, tidak luput kepada orang-orang mulia atau tinggi sekalipun, ialah Bhikṣu Pi-li-t’o-p’o-chê (Pilindavatsa).

入金光三昧,亦是比利陀婆遮比丘。
Yang memasuki Samādhi Cahaya Emas juga ialah Bhikṣu Pi-li-t’o-p’o-chê.

入金剛三昧,不可沮壞,所謂無畏比丘是。
Yang memasuki Samādhi Bajra, yang tak boleh terhancurkan, ialah Bhikṣu Wu-wei (‘Tiada Takut’, Abhaya).

所說決了,不懷怯弱,所謂須泥多比丘是。
Yang diucapkannya sudah putus jelas, tidak terkandung kelemahan, ialah Bhikṣu Hsü-ni-to (Sunīta).

恒樂靜寂,意不處亂,所謂陀摩比丘是。
Yang senantiasa gemar akan damainya keheningan, tidak menempatkan kekacauan dalam pikirannya, ialah Bhikṣu T’o-mo (Dama).

義不可勝,終不可伏,所謂須羅陀比丘是。」
Yang kelurusannya tidak terkalahkan, selamanya tidak tertundukkan, ialah Bhikṣu Hsü-lo-t’o (Surādha).”




(UDDĀNA:)

Fan-mo-ta, Hsü-shên,
So-mi, Yüeh, T’an-mi,
Pi-li-t’o, Tiada Takut,
Hsü-ni, T’o, Hsü-lo.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-9 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ 終不懈墮 ‘selamanya tidak jatuh dalam kemalasan’ — mengikuti bacaan Shōgozō 聖語蔵 (gudang penyimpanan kitab suci di Vihāra Tōdai-ji, Nara, yang manuskripnya digunakan oleh editor Kanon Taishō sebagai salah satu sumber kolase). Bacaan yang umum pada berbagai edisi Tripiṭaka: 終不解脫 ‘selamanya tidak terbebaskan’.

Kamis, 08 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Kedelapan







「我聲聞中,第一比丘體性利根,智慧深遠,所謂鴦掘魔比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul dalam hal sifat bawaannya yang berindera tajam, yang kebijaksaannya jauh mendalam, ialah Bhikṣu Yang-chüeh-mo (Aṅgulimāla).

能降伏魔外道邪業,所謂僧迦摩比丘是。
Yang mampu menaklukkan pekerjaan sesat kaum eksternalis Māra ialah Bhikṣu Sêng-chia-mo (Saṅgrāma? Saṅgamāji?).

入水三昧,不以為難,所謂質多舍利弗比丘是。
Yang memasuki Samādhi Air dan tidak menganggapnya sukar ialah Bhikṣu Chih-to Shê-li-fu (Citta Śāriputra).

廣有所識,人所敬念,亦是質多舍利弗比丘是。
Luas akan hal yang diketahuinya, dihormati dan dikenang orang, juga ialah Bhikṣu Chih-to Shê-li-fu.

入火三昧,普照十方,所謂善來比丘是。
Yang memasuki Samādhi Api dan menerangi semesta ke sepuluh penjuru ialah Bhikṣu Shan-lai (‘Datang dengan Baik’, Svāgata).

能降伏龍,使奉三尊,所謂那羅陀比丘是。
Yang mampu menaklukkan naga supaya menjunjung Tiga Yang Mulia ialah Bhikṣu Na-lo-t’o (Nārada).

降伏鬼神,改惡修善,所謂鬼陀比丘是。
Yang mampu menaklukkan hantu yakṣa agar mengoreksi kejahatan dan mengembangkan kebaikan ialah Bhikṣu Kui-t’o (Khitaka?)¹.

降乾沓和,勤行善行,所謂毘盧遮比丘是。
Yang mampu menaklukkan gandharva agar tekun melaksanakan praktik kebaikan ialah Bhikṣu P’i-lu-chê (Veroca? V(a)irocana?)².

恒樂空定,分別空義,所謂須菩提比丘是。
Yang senatiasa gemar akan Samādhi Kekosongan (śūnyatā), memilah-milah arti kekosongan, ialah Bhikṣu Hsü-p’u-t’i (Subhūti).

志在空寂,微妙德業,亦是須菩提比丘。
Yang berketetapan, dalam damainya kekosongan, untuk melakukan pekerjaan bajik³ yang halus dan menakjubkan, juga ialah Bhikṣu Hsü-p’u-t’i.

行無想定,除去諸念,所謂耆利摩難比丘是。
Yang mempraktikkan Samādhi Tanpa-tanda (ānimitta), menyingkirkan segala pemikiran, ialah Bhikṣu Ch’i-li-mo-nan (Girimānanda).

入無願定,意不起亂,所謂焰盛比丘是。」
Yang memasuki Samādhi Tanpa-hasrat (apraṇihita), pikirannya tidak terbit kekacauan, ialah Bhikṣu Yen-shêng (‘Nyala Berlimpah’, Telakāni?).”




(UDDĀNA:)

Yang-chüeh, Sêng-chia-mo,
Chih-to, Baik, Na-lo,
Yüeh-ch’a, Fu-lu-chê,
Pekerjaan Baik, mo-nan, Nyala.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-8 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ Identifikasi yang mengganjal. Syair uddāna di bawah hanya memberi transkripsi: Yüeh-ch’a 閱叉 (‘yakṣa’).

² Syair uddāna memberi transkripsi yang berbeda: Fu-lu-chê 浮盧遮.

³ Tê-yeh 德業 (’Pekerjaan Bajik’) merupakan interpretasi untuk nama Subhūti. Syair uddāna di bawah memberi terjemahan yang sedikit berbeda: Shan-yeh 善業 (‘Pekerjaan Baik’).

Nimitta (‘tanda’) seharusnya ditulis 相, tetapi seringkali dirancukan pada terjemahan lama dengan 想 seperti di sini.

⁵ Identifikasi yang mengganjal. Lihat juga catatan no. 7.

⁶ Alih-alih translasi ini, edisi Korea memberi bacaan: P’o 婆 (barangkali merupakan transkripsi sukukata pertama Svāgata — walaupun salah-salin, yang seharusnya Suo 娑).

⁷ Pada syair uddāna, edisi Sung menggunakan varian lain untuk menulis Yen (‘Nyala’): 炎. Edisi Korea malah kekurangan nama ini; tiga karakter terakhirnya adalah chi mo-nan 及摩難 (‘dan mo-nan’).

Rabu, 07 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Ketujuh







「我聲聞中第一比丘,豪族富貴,天性柔和,所謂釋王比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul dalam hal keluarganya yang berbangsa tinggi dan kaya, yang sifat alaminya lemah lembut, ialah Bhikṣu Shih Wang (‘Raja Śākya’)¹.

乞食無厭足,教化無窮,所謂婆提波羅比丘是。
Yang mengemis makanan tanpa merasa puas, mengajar dan merubah tanpa batas, ialah Bhikṣu P’o-t’i-po-lo (Bhadrapāla? Bhadrikapāla?)².

氣力強盛,無所畏難,亦是婆提波羅比丘是。
Yang daya energinya kuat berlimpah, tiada kesukaran yang ditakuti, juga ialah Bhikṣu P’o-t’i-po-lo.

音響清徹,聲至梵天,所謂羅婆那婆提比丘是。
Yang kumandangnya menembus dengan jernih, suaranya sampai ke alam brahma, ialah Bhikṣu Lo-p’o-na P’o-t’i (Ravaṇa Bhadrika)³.

身體香潔,熏乎四方,鴦迦闍比丘是。
Yang tubuhnya harum semerbak, mengukupi ke empat penjuru, ialah Bhikṣu Yang-chia-shê (Aṅgaja).



「我聲聞中第一比丘,知時明物,所至無疑,所憶不忘,多聞廣遠,堪任奉上,所謂阿難比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul dalam mengetahui waktu dan mengerti masalah, apa pun yang dijangkaunya tiada ragu, apa pun yang diingatnya takkan lupa, banyak mendengar luas dan jauh, tahan memikul dan menjunjung [tanggungjawab], ialah Bhikṣu A-nan (Ānanda).

莊嚴服飾,行步顧影,所謂迦持利比丘是。
Yang berhiasan elok, melangkah dengan memperhatikan bayangan, ialah Bhikṣu Chia-ch’ih-li (Kadalī?)

諸王敬待,群臣所宗,所謂月光比丘是。
Yang ditunggui dengan takzim oleh para raja, disembahi oleh rombongan abdi, ialah Bhikṣu Yüeh-kuang (‘Cahaya Bulan’, *Candraprabha? *Śaśiprabha?).

天人所奉,恒朝侍省,所謂輸提比丘是。
Yang dijunjung oleh dewa dan manusia, senantiasa diperhadapi bentara pelayan, ialah Bhikṣu Shu-t’i (Śuddhi?).

以捨人形,像天之貌,亦是輸提比丘。
Yang melepas bentuk manusia dan bertampang menyerupaï dewa juga ialah Bhikṣu Shu-t’i.

諸天師導,指授正法,所謂比丘是。
Guru dan pemandu para dewa, penunjuk dan pembimbing kepada Dharma Sejati (Saddharma), ialah Bhikṣu T’ien (Deva).

自憶宿命無數劫事,所謂菓衣比丘是。」
Yang mengingat perkara selama berkalpa-kalpa yang tiada terhitung dari kehidupan lampaunya sendiri ialah Bhikṣu Kuo-i (‘Berjubahkan Buah’, *Phalavāsin?).”




(UDDĀNA:)

Raja Śākya, P’o-t’i-po,
Lo-p’o, Yang-chia-shê,
A-nan, Chia, Cahaya Bulan,
Shu-t’i, Dewa, p’o-hsi.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-7 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ Yang dimaksud sepertinya Bhadrika — ia menurut beberapa riwayat adalah anak raja Śākya, Śuklodana (adik Raja Śuddhodana). Untuk bhikṣu dengan keunggulan ini, Etadagga Vagga Pāli memberikan nama: Bhaddiya Kāligodhāputta.

² Samakah dengan Pāli: Bhaddāli?

³ Untuk bhikṣu dengan keunggulan ini, Etadagga Vagga memberikan nama: Lakuṇṭaka Bhaddiya. Setengah bagian pertama transkripsi kita tampaknya adalah ravaṇa ‘nyaring, melengking, menggelegar’.

⁴ Berdasarkan bacaan Tripiṭaka edisi Korea. Edisi-edisi lain umumnya: 動于四方 ‘mengguncangkan ke empat penjuru’.

⁵ Rekonstruksi ini berdasarkan syair uddāna di bawah, yang mentranskripsikan setengah bagian kedua namanya: p’o-hsi (-vāsin, atau bisa juga -vāsita).

Selasa, 06 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Keenam







Sivali Seevali Seevalee Siwali Seewali Seewalee
「我聲聞中,第一比丘功德盛滿,所適無短,所謂尸婆羅比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul dalam jasa-jasa yang penuh berlimpah, ke mana pun ia menuju tiada kekurangan, ialah Bhikṣu Shih-p’o-lo (Śaivala).

具足眾行道品之法,所謂優波先迦蘭陀子比丘是。
Yang lengkap sempurna dalam aneka praktik Dharma penyusun Bodhi (bodhipākṣika) ialah Bhikṣu Yu-po-hsien Chia-lan-t’o-tzŭ (‘Upasena, Anak Kalanda’, *Upasena Kalandaputra?)¹.

所說和悅,不傷人意,所謂婆陀先比丘是。
Yang ucapannya ramah dan menyenangkan, tidak menyakiti pikiran orang, ialah Bhikṣu P’o-t’o-hsien (Bhadrasena).

修行安般,思惟惡露,所謂摩訶迦延那比丘是。
Yang mengembangkan praktik ānāpāna, menimbang ekspose [ketidakmurnian], ialah Bhikṣu Mo-ho Chia-yen-na².

計我無常,心無有想,所謂優頭槃比丘是。
Yang membilang aku (atma) tidaklah kekal, tiada gagasan [dualisme] dalam batinnya, ialah Bhikṣu Yu-t’ou-p’an (Upavāṇa? Udapānavana? Udumbara?).

能雜種論,暢悅心識,所謂拘摩羅迦葉比丘是。
Yang mampu, dengan berbagai ragam ceramahnya, berterang-terang menyenangkan batin [para pendengarnya] ialah Bhikṣu Chü-mo-lo Chia-shê (Kumāra Kāśyapa).

著弊惡衣,無所羞恥,所謂面王比丘是。
Yang mengenakan jubah lusuh dan buruk, tanpa ada yang dimalukan, ialah Bhikṣu Mien-wang (‘Raja Muka’, Mogharāja)³.

不毀禁戒,誦讀不懈,所謂羅云比丘是。
Yang tidak merusak aturan śīla, melafalkan dan membacanya dengan tidak malas, ialah Bhikṣu Lo-yün (Rāhula).

以神足力能自隱翳,所謂般兔比丘是。
Yang, dengan kekuatan tumpuan kesaktiannya (r̥ddhipāda), mampu meraibkan diri agar tersembunyi ialah Bhikṣu Pan-t’u (Panthaka).

能化形體,作若干變,所謂周利般兔比丘是。」
Yang mampu merubah bentuk perawakannya menjadi beberapa transformasi ialah Bhikṣu Chou-li Pan-t’u (Cūḍa Panthaka).”




(UDDĀNA:)

Shih-p’o, Yu-po-hsien,
P’o-t’o, Chia-yen²-na,
Yu-t’ou, Chia-shê, Raja,
Lo-yün, dua Pan-t’u.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-6 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ Dalam Etadagga Vagga Pāli terdapat seorang Upasena Vaṅgantaputta. Entah apakah ia sama dengan tokoh kita di sini.

² Yen 延 tampaknya adalah salah-salin berabad-abad untuk p’i 匹; dengan demikian seharusnya terbaca Mo-ho Chia-p’i-na 摩訶迦匹那 (Mahā Kapphiṇa).

³ Bentuk asli Prakertanya di sini pasti ambigu dan bisa berpadan dengan kata Sanskerta/Pāli mukha atau mogha. Penerjemah Tionghoa memilih arti yang pertama: mien 面 ‘muka’.


Senin, 05 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Kelima







「我聲聞中,第一比丘壽命極長,終不中夭,所謂婆拘羅比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul dalam usia panjang, selamanya tidak terjangkau kematian muda, ialah Bhikṣu P’o-chü-lo (Bakkula).

常樂閑居,不處眾中,亦是婆拘羅比丘。
Yang selalu menggemari permukiman sunyi (araṇyavāsa), tidak bertempat di antara saṅgha, juga ialah Bhikṣu P’o-chü-lo.

能廣說法,分別義理,所謂滿願子比丘是。
Yang mampu secara ekstensif membabarkan Dharma, memilah-milah prinsip yang berarti, ialah Bhikṣu Man Yüan-tzŭ (‘Penuh, Anak si Pendo‘a’, Pūrṇa Maitrāyaṇīputra)¹.

奉持戒律,無所觸犯,所謂優波離比丘是。
Yang menjunjung dan memegang śīla dan vinaya, tiada hal yang dilanggar, ialah Bhikṣu Yu-po-li (Upāli).

得信解脫,意無猶豫,所謂婆迦利比丘是。
Yang mendapatkan Pembebasan melalui keyakinan (śraddhādhimukta), pikirannya tiada sangsi, ialah Bhikṣu P’o-chia-li (Vakkali).

大體端正,與世殊異,所謂難陀比丘是。
Berperawakan besar dan rupawan, yang khas berbeda dengan [orang-orang di] dunia, ialah Bhikṣu Nan-t’o (Nanda).

諸根寂靜,心不變易,亦是難陀比丘。
Yang segala inderanya tenang, batinnya tiada bertukar, juga ialah Bhikṣu Nan-t’o.

辯才卒起,解人疑滯,所謂婆陀比丘是。
Yang talenta kefasihannya terbit sekonyong-konyong, menguraikan keraguan yang membata-bata orang lain, ialah Bhikṣu P’o-t’o (Bhadra?)².

能廣說義,理不有違,所謂斯尼比丘是。
Yang mampu membabarkan arti secara ekstensif, tiada ada berlawanan dengan prinsipnya (Dharma), ialah Bhikṣu Szŭ-ni (Sena? Seniya?).

喜著好衣,行本清淨,所謂天須菩提比丘是。
Yang senang mengenakan jubah bagus, namun praktiknya pada dasarnya murni, ialah Bhikṣu T’ien Hsü-p’u-t’i (Devasabha?)³.

常好教授諸後學者,難陀迦比丘是。
Yang selalu suka mengajar dan membimbing murid-murid yang junior ialah Bhikṣu Nan-t’o-chia (Nandaka).

善誨禁戒比丘尼僧,所謂須摩那比丘是。」
Yang dengan baik menginstruksikan aturan śīla kepada bhikṣuṇī-saṅgha ialah Bhikṣu Hsü-mo-na (Sumana).”




(UDDĀNA:)

P’o-chü, Penuh, po-li,
P’o-chia-li, Nan-t’o,
t’o, ni, Hsü-p’u-t’i,
Nan-t’o, Hsü-mo-na.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-5 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ Nama ibunya di sini tampaknya berasal dari suatu bentuk Prakerta untuk mantrinī ‘pendo‘a, pemantra’. Terjemahan Tionghoa belakangan, yang didasarkan pada bentuk Sanskerta, biasanya Man Tz’ŭ-tzŭ 滿慈子 (‘Penuh, Anak si Penyayang’).

² Tionghoanya jelas mentranskripsikan bentuk Prakerta: Bha(d)da. Tetapi, identitas tokoh yang dimaksud masih samar.

³ Identifikasi yang mengganjal. Transkripsi mengandaikan aslinya adalah *Devasubhūti (atau *Divyasubhūti).

Minggu, 04 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Keempat







「我聲聞中,第一比丘樹下坐禪,意不移轉,所謂狐疑離曰比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul duduk bermeditasi di bawah pohon, tidak pernah berpindah pikirannya, ialah Bhikṣu Hu-i Li-yüeh (‘Revata si Peragu’, Kaṅksā Revata).

苦身露坐,不避風雨,所謂婆蹉比丘是。
Yang duduk bermatiraga di tempat terbuka, tidak terkendala oleh angin dan hujan, ialah Bhikṣu P’o-ts’o (Vatsa)¹.

獨樂空閑,專意思惟,所謂陀素比丘是。
Yang gemar menyendiri di kesunyian yang lengang, memusatkan pikiran dan menimbang, ialah Bhikṣu T’o-su (Dāsaka?).

著五納衣,不著榮飾,所謂尼婆比丘是。
Yang mengenakan lima jenis jubah pāṃśukūla, tidak mengenakan ornamen penyemarak, ialah Bhikṣu Ni-p’o (Niśabha?).

常樂塚間,不處人中,所謂優多羅比丘是。
Yang gemar selalu di permakaman, tidak bertempat di antara manusia, ialah Bhikṣu Yu-to-lo (Uttara).

恒坐草蓐,日福度人,所謂盧醯甯比丘是。
Yang senantiasa duduk di tikar rumput, sehari-hari mengayomi dan menyelamatkan orang banyak, ialah Bhikṣu Lu-hsi-ning (Rohiṇī? Rohiṇeyya?).

不與人語,視地而行,所謂優鉗摩尼江比丘是。
Yang tak bercakap-cakap dengan orang, memandang tanah bila berjalan, ialah Bhikṣu Yu-ch’ien-mo-ni-chiang (Ukkamaṇika).

坐起行步,常入三昧,所謂刪提比丘是。
Yang, baik saat duduk, bangkit, atau berjalan, selalu memasuki samādhi ialah Bhikṣu Shan-t’i (Śānti? Sandhita?)².

好遊遠國,教授人民,所謂曇摩留支比丘是。
Yang suka melawat ke negeri-negeri jauh, mengajar dan membimbing rakyat, ialah Bhikṣu T’an-mo-liu-chih (Dharmaruci).

喜集聖眾,論說法味,所謂迦淚比丘是。」
Yang senang berkumpul dengan saṅgha para suci, berdiskusi membicarakan rasa Dharma, ialah Bhikṣu Chia-lei (Kāmabhū?)³.”




(UDDĀNA:)

Peragu, P’o-ts’o-li,
T’o-su, p’o, Yu-to,
Lu-hsi, Yu-ch’ieh-mo,
Damai, T’an-mo-liu, lei.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-4 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ Pada syair uddāna di bawah, akan tetapi, terbaca P’o-ts’o-li.

² Beberapa edisi memberi bacaan: Na-t’i 那提. Śānti agaknya lebih tepat sebab syair uddāna di bawah menerjemahinya Hsi 息 ‘damai’.

³ Identifikasi ini agak mengganjal; ada lagi yang menyarankan rekonstruksi: Kāliṅga. Beberapa edisi memberi bacaan: Ch’ieh-ch’ü 伽渠 (Gadga? Gadgara?).

Sabtu, 03 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Ketiga







「我聲聞中,第一比丘堪任受籌,不違禁法,所謂軍頭波漢比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul bertahan dalam mendapat undi (śalākā)¹, tidak pernah bertentangan dengan larangan Dharma, ialah Bhikṣu Chün-t’ou-po-han (Kuṇḍopadhāna)².

降伏外道,履行正法,所謂賓頭盧比丘是。
Yang menaklukkan kaum eksternalis agar melangkah ke dalam Dharma Sejati (Saddharma) ialah Bhikṣu Pin-t’ou-lu (Piṇḍola).

瞻視疾病,供給醫藥,所謂比丘是。
Penilik orang sakit, penyedia obat-obatan, ialah Bhikṣu Ch’ên (Kṣema).

四事供養衣被、飲食,亦是比丘。
Yang mempersembahkan empat kebutuhan pokok: sandang dan pangan, juga ialah Bhikṣu Ch’ên.

能造偈頌,嘆如來德,鵬耆舍比丘是。
Yang mampu menggubah syair-syair seloka untuk memuji kebajikan Tathāgata ialah Bhikṣu P’êng-ch’i-shê (Vaṅgīśa).

言論辯了而無疑滯,亦是鵬耆舍比丘。
Yang tutur katanya fasih dan mencerahkan tanpa keraguan yang membata-bata, juga ialah Bhikṣu P’êng-ch’i-shê.

得四辯才,觸難答對,所謂摩訶拘絺羅比丘是。
Yang memperoleh empat talenta kefasihan (pratisaṃvid), menjawab dengan betul bila menghadapi soal sukar, ialah Bhikṣu Mo-ho Chü-ch’ih-lo (Mahā Kauṣṭhila).

清淨閑居,不樂人中,所謂堅牢比丘是。
Yang bermukim di kesunyian dengan murni, tidak gemar di antara orang-orang, ialah Bhikṣu Chien-lao (‘Kukuh Teguh’, *Dr̥ḍha? *Sthira?).

乞食耐辱,不避寒暑,所謂難提比丘是。
Yang mengemis makanan dengan tabah, tidak terkendala oleh panas dan dingin, ialah Bhikṣu Nan-t’i (Nandin).

獨處靜坐,專意念道,所謂金毘羅比丘是。
Yang duduk hening seorang diri, memusatkan pikiran dan merenungkan Jalan, ialah Bhikṣu Chin-p’i-lo (Kimbila).

一坐一食,不移于處,所謂施羅比丘是。
Yang [sehari cuma] makan sekali dalam sekali duduk, tidak berpindah-pindah tempat, ialah Bhikṣu Shih-lo (Śaila?).

守持三衣,不離食息,所謂浮彌比丘是。」
Yang menjaga dan memegang tiga jubah (tricīvara), tidak meninggalkannya saat makan atau beristirahat, ialah Bhikṣu Fu-mi (Bhūmi?).”




(UDDĀNA:)

Chün-t’ou, Pin-t’ou-lu,
Ch’ên, P’êng, Chü-ch’ih-lo,
Kukuh Teguh dan Nan-t’i,
Chin-p’i, Shih-lo, mi.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-3 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ Yakni: undi giliran sebagai penerima dāna makanan.

² Dalam Divyāvadāna ia disebut Kuṇḍopadhānīyaka; teks kita barangkali mentranskripsikan bentuk Prakerta: *Kuṇḍopahāṇa.

Jumat, 02 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Kedua







「我聲聞中,第一比丘威容端正,行步庠序,所謂馬師比丘是。
“Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul dalam penampilan yang berwibawa dan rupawan, yang langkahnya anggun teratur, ialah Bhikṣu Ma-shih (‘Ahli Kuda’, Aśvajit)¹.

智慧無窮,決了諸疑,所謂舍利弗比丘是。
Yang kebijaksanaannya tanpa batas, memutus dan mencerahi segala keraguan, ialah Bhikṣu Shê-li-fu (Śāriputra).

神足輕舉,飛到十方,所謂大目揵連比丘是。
Yang dengan entengnya mengangkat tumpuan kesaktiannya (r̥ddhipāda) dan terbang ke sepuluh penjuru ialah Bhikṣu Ta Mu-chien-lien (‘Maudgalyāyana Agung’, Mahā Maudgalyāyana)².

勇猛精勤,堪任苦行,所謂二十億耳比丘是。
Yang bertekun dengan gagah, tahan menanggung praktik pertapaan keras, ialah Bhikṣu Êrh-shih-i Êrh (‘Kuping si Dua Puluh Koṭi’, Śrona Koṭiviṃśa).

十二頭陀,難得之行,所謂大迦葉比丘是。
Yang menjalankan dua belas dhūta, praktik yang sukar didapati, ialah Bhikṣu Ta Chia-shê (‘Kāśyapa Agung’, Mahā Kāśyapa).

天眼第一,見十方域,所謂阿那律比丘是。
Yang terunggul dalam mata dewa, menampak kawasan di sepuluh penjuru, ialah Bhikṣu A-na-lü (Aniruddha)³.

坐禪入定,心不錯亂,所謂離曰比丘是。
Yang batinnya tidak terkacaukan, memasuki samādhi sewaktu duduk bermeditasi, ialah Bhikṣu Li-yüeh (Revata).

能廣勸率,施立齋講,所謂陀羅婆摩羅比丘是。
Yang mampu secara ekstensif menganjur dan mengajak berderma untuk mensponsori dāna makan dan acara ceramah ialah Bhikṣu T’o-lo-p’o Mo-lo (Dravya Malla).

安造房室,與招提僧,所謂小陀羅婆摩羅比丘是。
Pembangun kuṭi dan bilik untuk diberikan kepada caturdiśa-saṅgha ialah Bhikṣu Hsiao T’o-lo-p’o Mo-lo (‘Dravya Malla Kecil’).

貴豪種族,出家學道,所謂羅吒婆羅比丘是。
Yang, dari keluarga berbangsa tinggi dan mulia, meninggalkan rumah-tangga dan mempelajari Jalan ialah Bhikṣu Lo-cha-p’o-lo (Rāṣṭrapāla).

善分別義,敷演道教,所謂大迦旃延比丘是。」
Yang dengan baik memilah makna, secara terurai membahas Ajaran Pencerahan, ialah Bhikṣu Ta Chia-chan-yen (‘Kātyāyana Agung’, Mahā Kātyāyana).”




(UDDĀNA:)

Ahli Kuda, Shê-li-fu,
Chü-lü, Kuping, Chia-shê,
A-na-lü, Li-yüeh,
Mo-lo, cha, Chan-yen.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-2 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ Atau mungkin juga Aśvaka — dengan demikian ia bukan salah satu anggota Pañcavargika.

² Syair uddāna di bawah memberikan nama aslinya: Chü-lü (Kolita).

³ Transkripsinya, akan tetapi, mengandaikan bentuk asli (dalam suatu dialek Prakerta): *Anaruddha.

⁴ Entah apakah ia tokoh yang sama dengan yang disebutkan sebelumnya.

Kamis, 01 Agustus 2019

PARA SISWA — Dekade Kesatu

Ini adalah dekade atau puluhan kesatu dari daftar nama siswa-siswi Buddha Śākyamuni, yang paralel dengan daftar serupa, Etadagga Vagga (Vagga tentang ‘Ini yang Terunggul’), di Kelompok Satu Aṅguttara Nikāya Pāli. Tidak seperti versi Pāli yang selesai dalam satu vagga, daftar dari Ekottara Āgama ini begitu ekstensif dan dibagi menjadi empat varga, masing-masing untuk bhikṣu (100 nama), bhikṣuṇī (50 nama), upāsaka (40 nama), dan upāsikā (30 nama). Di akhir setiap dekade terdapat sebait syair uddāna yang meringkaskan judul-judul sūtra yang telah dikhatamkan. Maka, seperti padanan Pāli-nya, setiap satu nama siswa seharusnya dihitung sebagai satu unit sūtra tersendiri.

Di sepanjang teks ini juga banyak kita jumpaï kesulitan untuk merekonstruksi nama yang telah ditraduksi ke bahasa Tionghoa, khususnya apabila tokoh yang dimaksud tidak populer. Shan-chou 善肘 (‘sikut yang baik’, *Sukūrpara?) adalah contohnya. Teks-teks Buddhis Tionghoa seringkali menggunakan 肘 untuk menerjemahkan hasta, yakni ukuran panjang dari sikut sampai ujung jari tengah. Namun, baik *Sukūrpara maupun *Suhasta terdengar aneh. Pilihan rekonstruksi akhirnya jatuh pada *Subāhu — nama yang umum digunakan di India. Bāhu berarti ‘lengan bawah’, yakni dari sikut hingga pergelangan tangan. (Serapan dalam bahasa Indonesia, bahu, akan tetapi mengalami pergeseran makna sebagai ‘pundak’.)

Kita mungkin menduga lima nama pertama pada dekade kesatu ini adalah lima bhikṣu perdana Buddha (pañcavargika bhikṣu) yang dikepalaï Ājñāta Kauṇḍinya. Tetapi, Yu-t’o-yi 優陀夷 dan Shan-chou 善肘 adalah nama-nama yang asing dengan Pañcavargika. Terpisahnya Ma-shih 馬師 (Aśvajit) ke awal dekade kedua juga menguatkan bahwa keduanya memang bukan anggota grup ini. Jadi, nama-nama yang dimuat dalam dekade kesatu ini tampaknya dipilih secara acak.







聞如是。
Demikianlah yang telah kudengar:



一時,佛在舍衛國,祇樹給孤獨園。
Pada suatu ketika Buddha berada di Śrāvastī, di Hutan Jeta di Taman Anāthapiṇḍada.



爾時,世尊告諸比丘:「我聲聞中,第一比丘寬仁博識,善能勸化,將養聖眾,不失威儀,所謂阿若拘隣比丘是。
Pada saat itu Bhagavan bersabda kepada para bhikṣu: “Di antara siswa-siswa-Ku, bhikṣu yang terunggul dalam berpengasihan lebar dan berpengetahuan luas, mampu dengan baik menganjur dan merubah, penghulu dan perawat saṅgha para suci, tidak pernah kehilangan tatakrama, ialah Bhikṣu A-jo Chü-lin (Ājñāta Kauṇḍinya).”

初受法味,思惟四諦,亦是阿若拘隣比丘。
Yang terawal dalam menerima rasa Dharma dan menimbang Empat Kebenaran juga ialah Bhikṣu A-jo Chü-lin.

善能勸導,福度人民,所謂優陀夷比丘是。
Yang mampu dengan baik menganjur dan memandu, mengayomi dan menyelamatkan rakyat, ialah Bhikṣu Yu-t’o-yi (Udāyin).

速成神通,中不有誨,所謂摩訶男比丘是。
Yang tercepat mencapai penembusan spiritual (abhijñā), berhasil tanpa adanya instruksi, ialah Bhikṣu Mo-ho-nan (Mahānāman).

恒飛虛空,足不蹈地,所謂善肘比丘是。
Yang senantiasa terbang di angkasa, kakinya tak pernah memijak bumi, ialah Bhikṣu Shan-chou (‘Sikut yang Baik’, *Subāhu).

乘虛教化,意無榮冀,所謂婆破比丘是。
Yang dengan wahana kehampaan mengajar dan merubah, dalam pikirannya tiada mengharapkan kemegahan, ialah Bhikṣu P’o-p’o (Vāṣpa?)¹.

居樂天上,不處人中,所謂牛跡比丘是。
Yang gemar bermukim di alam surga dan tidak bertempat di antara manusia ialah Bhikṣu Niu-chi (‘Tapak Sapi’, Gavāmpati)².

恒觀惡露不淨之想,所謂善勝比丘是。
Yang senantiasa mengamati persepsi dari ekspose ketidakmurnian (aśubha saṃjña) ialah Bhikṣu Shan-shêng (‘Kemenangan Baik’, *Vijaya? *Sujita?).

將養聖眾,四事供養,所謂優留毘迦葉比丘是。
Yang menghului dan merawat saṅgha para suci dengan persembahan empat kebutuhan ialah Bhikṣu Yu-liu-p’i Chia-shê (Uruvilvā Kāśyapa).

心意寂然,降伏諸結,所謂江迦葉比丘是。
Yang batinnya damai, telah menaklukkan segala belenggu, ialah Bhikṣu Chiang Chia-shê (‘Kāśyapa Sungai’, Nadī Kāśyapa).

觀了諸法,都無所著,所謂象迦葉比丘是。」
Yang, dalam mengamati dan memahami segala dharma, sama sekali tiada melekat ialah Bhikṣu Hsiang Chia-shê (‘Kāśyapa Gajah’, Gaja Kāśyapa)³.”




(UDDĀNA:)

Chü-lin, t’o-yi, nan,
Sikut yang Baik, yang kelima: p’o,
Tapak Sapi dan Kemenangan Baik,
tiga bersaüdara Chia-shê.







—— Ekottara Āgama, Kelompok Satu.
Dekade ke-1 dari varga IV, “Para Siswa” (弟子品).
Padanan Pāli: AN I.14 (Etadagga Vagga).






CATATAN:

¹ Sepertinya merupakan transkripsi bentuk Prakerta: Vappa.

² Setengah bagian kedua dari terjemahan ini, -chi ‘tapak’, juga mengandaikan bentuk aslinya Prakerta: *-padi.

³ Aslinya di sini tampaknya dalam bentuk Prakerta yang ambigu dan bisa berpadan dengan kata Sanskerta gayā atau gaja. Penerjemah Tionghoa memilih arti yang kedua: hsiang 象 ‘gajah’.